TPB Universitas Udayana Perkuat Kompetensi Dosen dalam Pendampingan Mahasiswa Lintas Generasi
Workshop Penguatan Kompetensi Dosen dalam Pencegahan Kekerasan, Perundungan, dan Pendampingan Mahasiswa Lintas Generasi berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Ruang Sidang Gedung Agrokompleks Lantai III, Kampus Sudirman, Denpasar. Kegiatan dimulai pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 13.30 WITA.
Kegiatan menghadirkan Ni Luh Arick Istriyanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai narasumber. Peserta berasal dari dosen TPB Universitas Udayana, dosen konselor di lingkungan program studi, serta dosen dari Universitas Bali Dwipa. Keragaman peserta membuat diskusi semakin kaya karena setiap dosen membawa pengalaman pendampingan mahasiswa yang berbeda.
MEMAHAMI MAHASISWA LINTAS GENERASI
Dalam pemaparannya, narasumber mengajak peserta memahami bahwa mahasiswa saat ini tumbuh dalam lingkungan sosial, teknologi, dan budaya yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut memengaruhi cara mahasiswa berkomunikasi, belajar, menyampaikan pendapat, serta merespons persoalan akademik maupun pribadi.
Pemahaman terhadap perbedaan generasi tidak dimaksudkan untuk memberi label kepada mahasiswa. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu dosen memilih pendekatan komunikasi yang lebih terbuka, menghargai pengalaman mahasiswa, dan tetap menjaga tujuan pembelajaran. Dosen didorong menjadi pendamping yang bersedia mendengarkan dan belajar bersama, tanpa mengurangi batas profesional dalam hubungan dosen dan mahasiswa.
MEMBANGUN RUANG AMAN DI LINGKUNGAN KAMPUS
Pembahasan selanjutnya menekankan pentingnya ruang aman di perguruan tinggi. Ruang aman tidak hanya merujuk pada tempat secara fisik, tetapi juga pada suasana yang membuat mahasiswa merasa dihargai, didengarkan, dan tidak takut menyampaikan persoalan. Untuk membangun suasana tersebut, dosen perlu menggunakan bahasa yang inklusif, menghindari respons yang menghakimi, dan menjaga kerahasiaan sesuai batas kewenangannya.
Peserta juga memperoleh penguatan mengenai konseling suportif. Prosesnya mencakup upaya menggali persoalan, membantu mahasiswa memahami situasi yang sedang dihadapi, dan mendiskusikan langkah yang dapat dilakukan. Pada saat yang sama, dosen perlu mengenali tanda-tanda ketika mahasiswa membutuhkan bantuan lebih lanjut dari psikolog, konselor profesional, atau layanan lain yang sesuai.
Sesi diskusi berlangsung aktif. Peserta berbagi pengalaman tentang cara menghadapi mahasiswa dengan karakter yang berbeda, membangun kepercayaan, menjaga batas keterlibatan dosen, dan menentukan respons yang tepat ketika menerima laporan kekerasan atau perundungan. Pembahasan berbagai situasi nyata membuat materi lebih dekat dengan tantangan yang ditemui dosen dalam kegiatan akademik sehari-hari.
MEMPERKUAT BUDAYA AKADEMIK YANG PEDULI
Melalui workshop ini, dosen diharapkan semakin siap menjalankan perannya sebagai pendidik sekaligus pendamping mahasiswa. Kompetensi tersebut penting untuk mendukung terciptanya proses pembelajaran yang sehat, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Kegiatan ditutup pada pukul 13.30 WITA dengan penyampaian simpulan, rencana tindak lanjut, dan dokumentasi bersama. Hasil workshop diharapkan tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam komunikasi, pembelajaran, dan pendampingan mahasiswa di TPB Universitas Udayana.


FACULTY OF AGRICULTURAL TECHNOLOGY